Monday, January 21, 2008

(#) PROPOSAL BISNIS SATE AMBAL

PROPOSAL WARUNG SATE AMBAL



Kepada :

Yth. Investor / Calon Investor Warung Sate Ambal

di -

Tempat



Dengan ini kami sampaikan proposal usaha kami untuk mengadakan pertimbangan yang tepat bagi Saudara untuk bekerjasama dengan kami dalam usaha ini :



  1. Nama Usaha

Sate Ambal


  1. Jenis Usaha

PERDAGANGAN


  1. Pemilik dan alamat Pemilik

Fuad Habib

Jalan Jatijajar 16 Kebumen


  1. SIUP

Nomor : 07.0200.503.198/PK/I/2007


  1. Tempat Usaha

Jalan Jatijajar 16 Kebumen


  1. Sumber Modal

Modal Sendiri : Rp 4.000.000

Modal Pinjaman : Rp 4.000.000


  1. Strategi bisnis

    • Tempat yang strategis

    • Penjualan: sistem bagi hasil laba bersih, Investor : 25%, pemilik : 75%. Berupa kios sederhana, di lokasi sekitar jatijajar

    • Estimasi modal per tusuk: Rp 700, Harga jual: Rp 1.000

    • Rasa lebih baik karena memakai resep khusus


  1. Kebutuhan modal awal

    • 2 dusin piring dan sendok Rp 50.000

    • 2 buah kios sewa @ Rp 2.000.000 = Rp 4.000.000

    • 10 Kg daging = Rp 400.000

    • Bangku dan meja dan perlengkapan lain Rp 1.500.000

    • Promosi lewat spanduk, pamflet, Perijinan: Rp 1.000.000

    • Total : Rp 6.950.000


  1. Ongkos rutin bulanan

    • Bungkus sate Rp 32.000

    • Lain-lain = Rp 160.000 (Air, Listrik, dll)

    • 1 orang pegawai = Rp 400,000

    • Total : Rp 592.000,-



  1. Estimasi pemasukan

Setiap kios diperkirakan bisa menjual 2000 tusuk per bulan



  1. Perkiraan kembali modal
    Laba per tusuk = Rp 300
    Laba kotor per bulan = Rp 300 x 2.000 tusuk x 2 kios = Rp 1.200.000

Laba Bersih = Rp 1200.000 – Rp 592.000 = Rp 608.000

Modal kembali = Total Modal / (75 % x Laba Bersih Per bulan)

= Rp 8.000.000 / Rp 900.000 = 8.9 bulan


  1. Penutup

Demikian Proposal usaha ini kami sampaikan. Atas kerjasamanya kami ucapkan terima kasih




Kebumen, 02 Januari 2008

Hormat Kami,




Fuad Habib

Owner


(#) Menghadapi persaingan (Managemen Pemasaran)

BAB I

PENDAHULUAN


Persaingan Global merupakan suatu tahapan perkembangan fenomena budaya yang mau tak mau harus dilalui oleh perjalanan peradaban maupun sendi-sendi kehidupan manusia. Yang penting adalah, bagaimana menyikapi dan mempersiapkan diri menyongsong datangnya fenomena tersebut.Pada tahap awal menjelang dilancarkannya gagasan untuk membangun sebuah pasar tunggal sistem angkutan udara di Eropa Barat ditandai dengan setiap negara yang mengoperasikan maskapai penerbangannya masing-masing. Dalam keadaan demikian, mereka dihadapkan pada suatu masalah besar mencari solusi original suatu sistem angkutan udara yang mampu berperan mendukung pembentukan pasar tunggal yang diangan-angankan. Selain masalah tersebut, muncul suatu masalah lain yang tampaknya merupakan masalah yang lebih krusial namun yang solusinya merupakan jawaban utama dari dan kemana mereka harus mencari informasi guna menjawab masalah krusial tersebut.

Jacques Naveau mengatakan bahwa "The European Community Commission (ECC) menjelaskan di dalam memorandum pertamanya bahwa mereka telah mencari untuk menemukan sebuah original solution, disamping mengakui adanya keharusan untuk belajar dari Amerika". Mengapa demikian? Tampaknya mereka telah berhasil mendeteksi dan mengidentifikasi keberhasilan peranan regional airlines yang sejak dicanangkannya ADA (Airline Deregulation Act) telah menunjukkan laju pertumbuhan dan pengembangan yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan kelompok maskapai penerbangan yang bernama US Majors) dan kelompok Local Air Carriers (yang kemudian bernama US. Nationals).

Tampaknya keberhasilan regional airlines di AS itu telah digunakan sebagai acuan maupun jawaban atas masalah yang lebih krusial di atas, yakni jawaban untuk bagaimana negara-negara di Eropa akan menumbuhkembangkan dan meningkatkan kelompok usaha kecil dan menengah. Kebijakan untuk lebih memusatkan arah pandangan ke usaha kecil dan menengah (UKM) telah menjadi kecenderungan (trend) waktu itu, di mana semakin banyaknya dan meratanya peranan UKM tersebut, maka dinamika perekonomian akan lebih cepat meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas dengan lebih merata.

Selanjutnya, ini bisa menjadi pandangan bagi negara-negara lain, bahwa UKM lebih bisa diandalkan karena merupakan simbol kemandirian suatu negara. Akan tetapi, seberapapun besar skala usaha yang dijalankan pada saat ini, akan selalu dihadapkan pada permasalahn yang kadang membuat usaha tumbang dan terkapar, yaitu persaingan. Semakin maju dan berkembang perekeonomian dalam suatu negara, maka akan semakin ketat pula persaingan. Lalu bagaimanakah sebaiknya usaha atau perusahaan tersebut mengambil sikap?











BAB II

PEMBAHASAN



Strategi Menghadapi Persaingan


Ada beberapa strategi untuk menghadapi persaingan, agar perusahaan tetap survive dan bisa menunjukkan taring :


1. Moving, Caring dan Inovating,


Setelah sukses besar XL dengan program Rp. 1 /detik, Telkomsel meluncurkan Rp. 0,5 /detik. Menjawab promo dari Telkomsel tersebut, XL saat ini membidik komunikasi antar operator melalui Rp. 0,1/detik ke semua operator kemudian mencoba mengikuti pemain baru 3 dengan Rp. 1/menit. Persaingan ini tentu juga dengan operator CDMA.

Contoh persaingan lain yang cukup berat adalah perusahaan pembiayaan. Di level nasional ada banyak pemain seperti Adira, ACC, FIF, Oto Multi Artha, Oto Summit, Busan Auto Finance, Sinar Mas dan lain. Di level yang lebih kecil ada Tunas Finance, Olimpindo Multi Finance dan lain-lain. Persaingan di pembiayaan masih ditambah dengan turunnya bank dalam persaingan pembiayaan melalui kredit konsumsi misalnya KKB dari BCA untuk pembiayaan mobil dan lain - lain.

Persaingan tentunya tidak hanya pada ke dua contoh tersebut namun hampir pada semua bdang usaha kecuali monopoli. Untuk menghadapi persaingan yang sangat ketat tersebut, harus dilakukan perubahan landasan pola pikir yang bertumpu pada tiga kata kunci : moving, caring, dan inovating.

Moving adalah kemampuan perusahaan untuk mengadaptasikan antara harapan konsumen terhadap suatu produk dan kemampuan untuk memenuhinya. Misalnya adanya airbag untuk mobil untuk menambah keamanan dalam berkendara. Contoh lain misalnya lahirnya TV handphone dari Hisense yang sebelumnya masih menggunakan jaringan 3G dan lain - lain. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan konsumen yang akan menang dalam persaingan.

Dalam mewujudkan semua keiginan konsumen ini, agar berhasil baik, moving harus disertai dengan caring dan inovating.Yang dimaksud dengan caring kepedulian kepada konsumen. Dalam tahap caring ini perusahaan berusaha memahami sebaik mungkin apa yang dibutuhkan konsumen.

Untuk mewujudkan keinginan konsumen tersebut, hanya dapat ditempuh melalui inovasi disemua aspek perusahaan meliputi bidang strategi, manajerial maupun produk/jasa. Inovasi di bidang strategi dan manajerial merupakan proses untuk menghantarkan nilai tambah bagi konsumen. Inovasi bidang strategi dan manajerial ini ditempuh dengan penggunaan strategi ataupun manajemen baru dalam perusahaan.

Inovasi dalam bidang produk meliputi kelengkapan produk dan juga teknologi terbaru. Inovasi ini tentunya hanya akan berhasil dipasaran apabila proses caring berjalan bagus. Inovasi produk sesuai dengan harapan konsumen ataupun inovasi baru yang mempunyai nilai guna lebih bagi konsumen.

Apabila moving, caring, inovating ini dapat berjalan dan terintegrasi dengan baik, maka kepuasan pelanggan akan menghasilkan kepercayaan dan hubungan jangka panjang yang berkelanjutan, atau dengan kata lain terciptalah loyalitas pelanggan.

Dengan adanya loyalitas ini persaingan usaha menjadi tidak begitu berat, tinggal bagaimana kita menjaga pelangan.



2. Memaknai Kompetisi Sebagai Sebuah Pusaran Sinergi

Dewasa ini kata KOMPETISI banyak ditafsirkan sebagai sebuah drama yang selalu melahirkan "Pemenang" sekaligus mencetak sekumpulan "Orang Kalah". Sebagai konsekuensinya, "Pemenang" akan ditafsirkan sebagai sosok yang menjulang di puncak kejayaan, yang akan dipandang dengan wajah menengadah oleh kaum "terkalahkan".
Sekejam itukah makna KOMPETISI? Apalagi bila panggung kompetisi ini sudah menapak, sudah mengejawantah di kehidupan riil sehari-hari. Sungguh kejam bila alam semesta ini pada akhirnya dikotak-kotakkan sebagai
winner-looser, sebagai leader-follower, sebagai champion-mediocre, sebagai developing-under developed, atau sebagai central-marginal. Sedangkal itukah Hukum Alam yang harus dijalani oleh manusia?
Tentu tidak! Tuhan Sang Pemangku semesta alam ini sudah menyerukan untuk "Berlomba-lomba di dalam kebaikan". Ini artinya, hakikat sejati dari KOMPETISI akan jauh lebih dalam dari sekedar
menang-kalah. Ada energi positif yang sangat besar, yang mengandung berjuta manfaat, yang dikandung oleh drama bernama KOMPETISI ini.
Sebagai contoh, kesuksesan Tim Olimpiade Fisika Indonesia sebagai
the rising star, telah memacu ratusan SMA unggulan di seantero negeri untuk menempatkan wakil-wakilnya. Walaupun akhirnya tim terpilih hanya terdiri dari "hitungan jari", tidak berarti ribuan siswa yang telah ikut berkompetisi lantas menjadi sia-sia.

Tengoklah, berapa banyak SMA yang saat ini dengan bangga memasang papan nama "Mitra Olimpiade Fisika" dihalaman muka sekolahnya? Berapa banyak siswa SMA yang mendadak "jatuh cinta" pada mata pelajaran yang dulunya biasa dianggap monster? Semua pencapaian itu adalah hasil SINERGI dari ribuan siswa yang (menjadi) antusias, hasil SINERGI dari ratusan guru yang (menjadi) kompeten. Dan semua aktifitas ini berpusaran dengan KOMPETISI (Olimpiade Fisika) sebagai pusat orbitnya.

Jadi apa hakikat sejati dari KOMPETISI itu? Untuk menjawabnya, kita mengacu pada sebuah Hukum Alam, yaitu bahwa segala sesuatunya di alam semesta ini selalu bergerak memutar. Semua mahluk Tuhan tanpa kecuali, selalu bergerak memutar.

Tengoklah, sekumpulan tatasurya akan mengorbit membentuk galaksi. Sekumpulan galaksi mengorbit membentuk super cluster. Sekumpulan elektron akan mengorbit membentuk molekul. Metabolisme manusia juga merupakan pusaran, sirkulasi dari energi kimia (makanan) menjadi energi tubuh (bio energi) dengan perantaraan sirkulasi darah dimana jantung merupakan pusat orbitnya. Contoh-contoh di atas menegaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini selalu berpusaran pada "sesuatu" yang lebih besar dari dirinya.
KOMPETISI adalah sebuah bentuk pusaran. Sang "pemenang" adalah pusat orbitnya, sementara "peserta lainnya" akan berputar mengelilinginya. Tidak ada istilah "kalah-menang" di sini, karena kewajiban sang "pemenang" adalah membagi ilmunya, membagi pengalamannya, menebar energi positifnya, kepada siapa saja yang mengorbit di sekelilingnya. Sedangkan kewajiban "peserta lainnya" adalah membuka diri untuk menyerap energi, menyerap ilmu, menyerap pengalaman dari sang pusat orbit, sang "pemenang". Inilah sebuah bentuk SINERGI.

Meskipun sama-sama mengorbit, tapi ada perbedaan mendasar antara manusia dengan mahluk Tuhan lainnya dalam melakukan SINERGI nya. Seperti "bumi-matahari", sampai kapan pun bumi selalu mengitari matahari dan tak mungkin terjadi hal sebaliknya. Tapi manusia sama sekali berbeda.

Manusia, mahluk Tuhan yang telah di "inisiasi" sebagai penguasa bumi dan isinya, telah dianugerahi kemampuan yang tak terbatas. Setiap orang memang akan selalu "mengorbit" pada seseorang yang lebih sukses dari dirinya. Seorang karyawan mengorbit pada perusahaan tempat ia bekerja. Seorang pengusaha akan mengorbit pada segmen konsumen tertentu dan juga mengorbit pada pengusaha senior lainnya (baca: networking). Seorang trainer akan mengorbit pada seorang guru yang lebih diakui kesahihannya. Tapi pada satu titik, setelah ia sukses menyerap energinya, menyerap pengalamannya, ia akan lepas, dan menjelma sebagai pusat orbit yang baru.

Kini ia akan beralih tugas, dari "menyerap" berubah menjadi "membagi". Dan di sekelilingnya PASTI akan mengorbit rekannya, muridnya, koleganya, bawahannya atau pengagumnya yang dengan hati terbuka bersedia menyerap ilmu dan pengalamannya. Terjadilah sebuah SINERGI yang menjadi mata rantai tak terputuskan. Saling memberi dan menerima. Inilah hakikat yang terdalam dari sebuah KOMPETISI, yang jauh lebih bermakna dari sekedar kalah-menang.

Tahun 2008 sudah kita masuki, marilah kita jalani peran kita masing-masing dengan sebaik-baiknya, agar terjadi SINERGI, yang memang merupakan kehendak Tuhan bagi setiap manusia. Anda yang sedang jadi "pemenang" , sedang menjadi atasan, sedang menjadi idola, bagilah pengalaman dan energi Anda. Sedangkan Anda yang sedang mengorbit, bukalah hati Anda agar dapat maksimal dalam "menyerap".

Suatu saat, atasan-bawahan, idola-pengagum, junior-senior, market leader-follower, pasti akan bertukar peran. Dan itu PASTI terjadi karena memang sudah menjadi ketentuan alam.



3. Kemitraan dan Pengecualian

Dilatar-belakangi oleh kesempatan untuk menumbuhkembangkan regional airlines pada The European Community Commission (ECC) yang telah dijelaskan di bab Pendahuluan, maka muncul permasalahan apakah akan dikembangkan suatu iklim persaingan atau kemitraan antara airlines tersebut. Dengan harapan bahwa peranan maskapai penerbangan adalah untuk menggalang persatuan negara-negara Eropa Barat ke dalam Uni Eropa yang bersatu, maka jelas bahwa mereka memilih sistem kemitraan dari pada persaingan. Hal ini juga seperti dikatakan oleh Jacques Naveau: "Jelas, bahwa konsep awal suatu kebijakan transpor udara di Eropa telah dilandasi oleh suatu visi politik dari sebuah sistem Eropa yang menyatu, serta mengutamakan pada kemitraan dalam mewujudkan visi tersebut".

Dipilihnya sistem kemitraan tersebut, karena mereka tampaknya menyadari bahwa sistem persaingan akan menjadi kendala bahkan mungkin juga akan mengakibatkan disintegrasi yang jelas akan menggagalkan segenap upaya yang telah disepakati itu.

Jaringan rute penerbangan di Uni Eropa dirajut menggunakan pola dasar yang dikenal sebagai pola Hub-and-Spoke, yang mereka pelajari dari AS. Bedanya antara jaringan rute penerbangan di AS, merupakan perkembangan sebagai konsekuensi dari kebijakan deregulasi, terhadap jaringan penerbangan yang sudah ada sebelumnya. Sedang pola jaringan rute penerbangan di Uni Eropa ditandai dengan berfungsinya Ibukota negara-negara yang tergabung ke dalam Uni Eropa sebagai hub dari masing-masing regional airlines-nya. Dengan pola ini maka sektor-sektor yang menghubungkan setiap ibukota tersebut akan hanya dilayani oleh dua regional airlines. Disebut juga sebagai sektor duopoly.

Sedang sektor-sektor yang menghubungkan suatu hub dengan spoke (cities) yang masih terletak di dalam batas-batas wilayah suatu negara, merupakan sektor monopoli dari regional airline-nya. Beberapa negara seperti Swiss misalnya memiliki dua kota sebagai hub, maka sektor yang menghubunginya dengan sendirinya merupakan suatu sektor monopoli. Jaringan pola di atas mulai diatur sejak 1987 dan berakhir pada tahun 1997 setelah dicanangkannya kebijakan Complete Liberalisation, yang memungkinkan sebuah pesawat untuk terbang dari hub-nya (Ibukota dalam negara masing-masing) ke spoke (city/kota-kota dalam negara masing-masing) dari negara lain.

Para policy-makers dari Eropa melihat atau menilai Amerika Serikat telah berhasil membentuk sebuah pasar homogen, yang ditujukan sebagai suatu defence system dalam menghadapi persaingan global barang dan jasa dengan tingkat harga yang sangat kompetitif di masa mendatang. Terbentuknya Uni Eropa dan uni-uni lainnya seperti Uni Afrika yang merupakan 'regionalisasi' dari negara-negara di Afrika, kemudian uni yang terdiri dari negara-negara Arab di Timur-Tengah, dan tak ketinggalan pula regionalisasi Asean, tampaknya sudah menjadi condition yang tidak bisa dihindari lagi pewujudannya. Dengan kata lain, persaingan global di masa mendatang akan merupakan persaingan antara uni-uni atau regional-regional tersebut, yang harus dihadapi oleh kesatuan 'pasar tunggalnya' masing-masing uni atau regional.

Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa visi politik dari sebuah sistem Eropa yang menyatu, mengutamakan pada kemitraan atau kerja sama dalam mewujudkan visi tersebut. Di bidang penerbangan, kemitraan dilangsungkan dengan mengadakan aliansi-aliansi sesuai kebutuhan dan dilandasi oleh win-win solution, bilateral maupun multilateral agreements seperti pooling agreements, code-sharing dan on-line, sampai ke mergers. Bila kemitraan tersebut dikaitkan dengan undang-undang dan ketentuan-ketentuan anti monopoli atau anti trust law, maka jelas bahwa kesesuaiannya itu dapat diklasifikasi sebagai pelanggaran atau pengecualian.

Namun, mengingat bahwa kemitraan seperti di atas merupakan faktor yang menentukan dan diperlukan guna menggalang suatu 'European Air Transport Single Market' yang homogen, maka kemitraan semacam itu dikecualikan dari undang-undang anti trust atau anti monopoli. Dengan kata lain, selama kemitraan semacam itu bertujuan atau digunakan untuk kepentingan yang lebih besar atau luas seperti guna meningkatkan kesejahteraan UKM dalam suatu demensi atau wilayah yang sangat luas seperti dalam sebuah uni Eropa misalnya, maka bentuk kemitraan apapun dapat dikecualikan dari UU Anti Monopoli. Dengan ketentuan, selama itu tidak menghambat atau menjadi kendala pada kelancaran 'berjalannya' Uni Eropa atau bila itu akan merugikan suatu kelompok, golongan atau individu terutama para konsumennya, maka kesemuanya itu dapat dikecualikan dari UU Anti Monopoli. Terdapat kesan bahwa segala jenis usaha transportasi di Uni Eropa, semuanya dikecualikan dari ketentuan-ketentuan UU Anti monopoli.

Sudah menjadi jelas bahwa kemitraan yang berlangsung untuk tujuan-tujuan yang lebih luas seperti demi kesejahteraan bagi masyarakat yang lebih luas, sangat berbeda dengan kemitraan-kemitraan yang bertujuan untuk kepentingan suatu kelompok atau golongan dan atau individu tertentu yang hanya ingin menang sendiri. Seperti dibentuknya monopoli-monopoli yang dapat merugikan kepentingan orang banyak, maka kemitraan semacam terakhir itu harus ditindak tegas dengan menegakkan hukum UU Anti Monopoli tersebut.

Perlu dicermati bahwa dengan diliberalisasikan kemitraan yang lebih bebas, tidak berarti tidak diperlukan peraturan perundangan yang mengatur aturan mainnya. Malah sebaliknya, dalam iklim usaha yang lebih liberal justru diperlukan peraturan perundangan yang lebih jelas dan tegas dalam mengatur aturan main agar industrinya dapat dicegah atau agar tidak mengalami kebablasan yang pada ujung-ujungnya hanya akan merugikan kepentingan orang banyak atau masyarakat luas.

Industri penerbangan Indonesia sebaiknya mampu atau lebih penting lagi, mau mencermati dan memahami perkembangan maupun perubahan-perubahan yang terjadi baik pada industri penerbangan di AS maupun di UE. Bila UE telah berhasil membentuk suatu European Air transport Single Market homogen yang mengacu pada hasil-hasil yang telah dipelajarinya dari AS, maka tidak ada salahnya bila kita juga mau belajar terutama perkembangan industri penerbangan di UE.

Hal ini mengingat bahwa bila di UE pasar tunggalnya dibentuk oleh maskapai penerbangan dari negara-negara anggotanya, maka di Indonesia diharapkan dapat dibentuk oleh regional airlines dengan ibukota propinsi sebagai hub dari pola rute penerbangan hub-and-spokenya. Mudah-mudahan.



4. Cara Menghadapi sebuah Perang Harga

Dibawah ini disebutkan beberapa teknik menghadapi persaingan harga dan dan non-harga secara singkat :

Taktik

Contoh

Respon non harga

Tunjukan strategic intention dan capabilities anda

Tawarkan harga sama dengan pesaing anda, tawarkan everyday low price, atau tunjukan bahwa anda memliki keunggulan biaya dimata pesaing (cost advantage)

Bersaing di kualitas

Tingkatkan diferensiasi produk dengan menambahkan keunggulan pada sebuah produk, atau bangun awareness terhadap keunggulan yang ada dan manfaatnya. Tekankan adanya resiko pada harga yang murah.

Manfaatkan kemungkinan kerjasama

Bentuk strategic partnersip dengan menawarkan kerjasama ekslusif dengan supplier, reseller, atau penyedia jasa yang berhubungan dengna bisnis anda.

Respon Harga

Gunakan harga yang komplek

Tawarkan harga paket (bundled prices), paket harga dua produk (two-part pricing), kuantiti diskon, harga promosi, atau program loyalitas untuk beberapa produk, beli dua dapat satu.

Kenalkan produk baru

Perkenalkan produk baru (flanking brands) yang khusus untuk bersaing di arena dimana pesaing menerapkan strategi harga. Hal ini juga sebagai usaha untuk menghindari persaingan harga pada segmen produk anda yang telah ada.

Gunakan harga yang menarik

Sesuaikan harga produk regular anda dalam merespon perubahan harga pesaing atau potensi lain untuk memasuki pasar



5. Competitive Intelligence Program (CIP)

Secara umum, CIP adalah proses secara terus-menerus secara sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kegiatan para pesaing dan kecenderungan-kecenderungan bisnis (trend politik, ekonomi, teknologi) untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Dalam artian lain, CIP ini merupakan kegiatan spionase secara legal untuk kemajuan perusahaan.

SESEORANG dari perusahaan telepon seluler melakukan perjalanan menjelajahi Philadelphia sambil menyadap transmisi telepon seluler pesaingnya. Yang disadap bukanlah

pembicaraan orang lain dan dia tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau yang tidak etis, tetapi dia sedang mengukur kekuatan dan jangkauan sinyal pesaing mereka.

Sebuah perusahaan minuman menganalisis air limbah yang dikeluarkan oleh perusahaan pesaingnya. Tujuan akhirnya adalah untuk menghemat biaya

promosi dan iklan. Semua orang-orang ini terlibat dalam dunia intelejen kompetitif yang misterius. Inilah dunia yang dihuni oleh mata-mata perusahaan dan orang bisnis yang keras

hati, yang mencari peluang untuk mengalahkan pesaingnya. Bila hal tersebut dilakukan secara bertanggung jawab, maka kegiatan tersebut menjadi sah dan etis, walaupun beberapa perusahaan telah diketahui melampaui batas, seperti mencuri informasi, menyadap telepon, merampok kantor, dengan demikian mereka telah memasuki dunia spionase industri.



BAB III

KESIMPULAN



Dari uraian diatas, maka bisa kami simpulkan sebagai berikut :

  1. Persaingan merupakan hal yang semakin tak bisa dihindarkan bagi dunia usaha atau pemasaran sehingga mau tak mau kita harus bersiap siaga untuk menghadapinya dengan teknik dan langkah yang tepat.

  2. Persaingan bisa dihadapi dengan cara-cara :

  • Moving, Caring dan Inovating

  • Memaknai persaingan sebagai sebuah pusaran energi

  • Kemitraan dan pengecualian dalam kemitraan

  • Menghadapi sebuah Perang Harga dengan langkah yang tepat

  • Competitive Intelligence Program (CIP)

  1. Persaingan merupakan hal yang memiliki sisi negatif dan positif, tergantung kita menyikapinya.
















SUMBER :



www.primeaccesscard.com



www.andriewongso.com



www.angkasa-online.com



www.marketing.co.id





(#) INFLASI (MAKRO)

BAB II

PEMBAHASAN




BAGAIMANA TERJADINYA INFLASI?

Tingkat inflasi untuk bulan Oktober 2005 yang sangat tinggi itu (8,75%) masih membuat prihatin banyak kalangan. Karena ada yang disebut core inflation, atau inflasi inti, oleh Bank Indonesia yang besarnya sekitar 7-8% setahun maka kedua pengaruh inflasi ini secara agregatip menimbulkan inflasi lebih dari 15% setahun. Maka arti inflasi harus disikapi.

Arti atau definisi umum dari inflasi adalah gejala kenaikan harga secara umum (artinya semua harga terpengaruhi) oleh karena “terlalu banyak uang mengejar jumlah barang yang jumlahnya tidak bertambah”. Inflasi dalam artian ini adalah gejala effective demand yang terlalu besar, entah oleh karena akibat kebijakan fiskal (anggaran belanja pemerintah) atau oleh kebijakan moneter dari bank sentral. Misalnya, dalam masa pertama RI inflasinya tinggi sekali oleh karena kebijakan fiskal terlalu “gampangan” (loose). Artinya, kalau pemerintah memerlukan uang maka ditempuh jalan yang mudah, yakni cetak saja uang baru. Usaha untuk mengumpulkan pajak baru merupakan usaha serius di zaman yang mutakhir. Pada tahap berikutnya maka dalil untuk “mencetak saja uang kalau diperlukan pemerintah” dikoreksi. Pembiayaan defisit anggaran belanja pemerintah diusahakan dengan cara yang tidak langsung menuju ke pencetakan uang baru. Maka pada tahap itu menarik pinjaman luar negeri menjadi jalan keluar yang sering ditempuh oleh pemerintah. Ini sesuai dengan prinsip umum pembiayaan defisit anggaran belanja pemerintah yang non-inflator, yakni berhutang saja dari luar dan dalam negeri, atau/dan menjual asset negara. Menjual asset negara untuk menutup defisit juga merupakan upaya yang lebih mutakhir, yakni dengan menjual BUMN, entah sebagian sahamnya atau secara keseluruhan (privatisasi).


Bank Indonesia sebagai bank sentral sekarang mempunyai misi tunggal, yakni menjaga nilai rupiah, artinya sekuat tenaga berusaha mengekang inflasi. Kalau ada tekanan inflasi yang meninggi maka BI menaikkan suku bunganya (BI rate atau SBI) sehingga mengerem pengeluaran kredit baru oleh sistim perbankan. Akan tetapi kalau inflasi tetap memuncak maka BI menghadapi dilema, seperti sekarang ini juga.

Secara umum terdapat dua jenis inflasi yakni kenaikan harga Indeks Harga Konsumen (IHK) yang merupakan headline inflation dan inflasi inti (core inflation). Kenaikan harga BBM merupakan faktor administered price atau kenaikan harga yang dipicu oleh kebijakan pemerintah.

Masalahnya, salah satu yang bisa memicu kenaikan inflasi inti itu adalah ekspektasi masyarakat akibat kenaikan harga BBM. Yang terjadi seringkali kenaikan BBM diikuti dengan kenaikan harga barang-barang dan jasa, termasuk yang tidak terkait langsung dengan kenaikan BBM.
Pemerintah juga perlu menyalurkan sebagian dana untuk investasi infrastuktur. Sebab selama ini hal yang menaikkan inflasi IHK adalah ketidaklancaran distribusi barang dan bahan pokok. Apabila distribusi lancar maka inflasi juga akan dapat ditekan.

Laju inflasi yang begitu tinggi, yang ditandai dengan melambungnya harga barang dan jasa, dikhawatirkan mendorong masyarakat mengorbankan pendidikan dan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kondisi itu bisa semakin menurunkan tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia sehingga daya saingnya semakin merosot.

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sri Adiningsih, mengatakan kepada Pembaruan di Jakarta, Senin (7/11), kenaikan laju inflasi yang dibarengi dengan kenaikan harga akan menyebabkan masyarakat memilih secara ketat pengeluaran rumah tangganya.

Berkaitan dengan hal itu masyarakat akan menempatkan kebutuhan pangan se- bagai prioritas utama dalam belanja rumah tangga. Sedang kebutuhan lainnya, termasuk pendidikan dan kesehatan, tidak masuk dalam prioritas.

Untuk itu, Adiningsih mengimbau pemerintah dan Bank Indonesia (BI) betul-betul bekerja keras meminimalisasi dampak inflasi terhadap ekonomi, terutama di tingkat rumah tangga, dengan memberikan insentif dan stimulus dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dinilai cukup longgar pascakenaikan BBM.


DAMPAK DARI INFLASI


Inflasi yang tinggi akan mengurangi daya beli masyarakat. Konsumsi rumah tangga akan menurun.

Adanya inflasi tentunya menjadi kekhawatiran semua pihak, khususnya pada sektor ekonomi di tingkat mikro. Bila melihat perkembangan inflasi nasional di bulan ini, secara parsial angka kumulatif inflasi sekira 17 persen, sementara secara keseluruhan pada 2005 rata rata kumulatif 10 persen. Sedangkan pihak pemerintah sendiri mengharapkan angka-angka tersebut pada 2006 yang dapat ditekan menjadi rata-rata sekira 8 persen.

Bagi Bank Indonesia, munculnya angka persentase ini dirasakan tinggi untuk menekannya melalui kebijakan uang ketat (tight money policy).

    Harapan BI dengan adanya kebijakan setidaknya perputaran uang di tengah masyarakat dapat dikurangi. Dan pengurangan dapat menekan angka inflasi. Kebijakan uang ketat ini bisa berjalan efektif selama masyarakat komitmen memegang rupiah. Rupiah dirasakan lebih untung jika dibandingkan memegang dolar Amerika Serikat.

    Dampak lain, yakni dengan semakin kuatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hasrat menabung masyarakat dalam rupiah semakin tinggi. Pada akhirnya, investor asing mau menanamkan investasinya ke dalam negeri. Jika semua berjalan mulus, tanpa adanya gangguan faktor eksternal, strategi yang dijalankan Bank Indonesia akan mampu menekan angkat, dan tingkat inflasi yang tengah berjalan.

Dalam menekan laju inflasi melalui tight money policy ada beberapa faktor yang juga ikut menentukan tinggi rendahnya inflasi.

  1. pasokan kebutuhan dan kelancaran distribusinya, infrastruktur serta sarana transportasi.

  2. perdagangan luar negeri, peraturan kepabeanan serta sarana kepelabuhan.

  3. faktor musim, bencana alam

  4. kondisi moneter regional/internasional, kebijakan moneter federal reserve bank.

Masalah yang sangat pelik saat ini, yakni pengangguran jauh lebih berbahaya dibanding penanganan masalah inflasi. Persoalannya masalah pengangguran tidak bisa hanya diatasi dengan berbagai kebijakan. Penyelesaiannya harus diimbangi dengan tindakan nyata dan rasional, yakni mengembangkan dan memberdayakan pada sektor riil. Ini semua membutuhkan dana investasi yang besar.

Dari perhitungan Bappenas dan BPS, angka 1 persen pertumbuhan inflasi (growth rate) dibutuhkan dana investasi sebesar Rp 100 triliun. Jika pemerintah menghendaki angka pertumbuhan pada 2006 sebesar 6 persen, berarti dibutuhkan dana investasi sebesar Rp 600 triliun. Dan sumber budget tersebut bisa dari pemerintah, perbankan dan pengusaha dalam dan luar negeri. Tentunya jumlah tersebut cukup besar dan tak sebanding dengan perkembangan ekonomi saat ini. Paling tidak, dengan estimasi pemerintah itu, pada 2006 ini dapat terpenuhi, jika pemerintah tetap mengacu pada target growth rate sebesar 6 persen.

Dari dasar estimasi perhitungan rata-rata, setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi akan menyerap sebanyak 250.000 tenaga kerja. Jadi kalau dikatakan growth rate pada 2006 sebesar 6 persen, penyerapan tenaga kerja akan mencampai sebanyak 1.500.000. Sedangkan pada tingkat nasional pertambahan jumlah tenaga kerja pertahun sebanyak 1.600.000. Dengan demikian ada sekitar 100.000 tenaga kerja yang tidak memperoleh pekerjaan. Mereka ini menjadi penganggur dan menambah rentetan jumlah penganggur sebelumnya. Itu kalau pertumbuhan mencapai 6 persen. Jika tidak tentu jumlah penyerapannya tidak demikian. Pada 2005, dimana growth rate yang dicapai hanya sebesar 4,5 persen dan daya serap tenaga kerja hanya 1.125.000. Itu berarti terjadi kelebihan sebesar 475.000 tenaga kerja. Bisa dibayangkan berapa besar jumlah angkatan kerja yang penganggur ditambah tahun-tahun sebelumnya.



BAGAIMANA MENGATASI INFLASI?


BI bisa melakukan Kebijakan uang ketat meliputi :

  1. peningkatan tingkat suku bunga;

  2. penjualan surat berharga (SBI);

  3. peningkatan cadangan kas;

  4. pengetatan pemberian kredit



Dalam pemulihan perekonomian makro, tim ekonomi pemerintah, harus mampu menciptakan kestabilan makro ekonomi, dengan menekan inflation rate menjadi single digit, sekitar 8 persen. Makro ekonomi yang menyangkut tiga komponen yaitu interest rate, inflation rate dan exchange rate, yang semuanya saling ketergantungan dan saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Di sisi lain, dengan diturunkannya BI rate, hal tersebut berpengaruh pada turunnya suku bunga perbankan dan akan mendorong investor menanamkan investasi lebih banyak. Aktivitas perekonomian terus berputar. Dengan demikian akan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang lebih besar secara bertahap, sehingga pendapatan masyarakat akan ikut naik. Dalam rangka meningkatkan iklim investasi secara nasional guna menanggulangi dan meningkatkan di berbagai sektor riil. Selain itu, pemerintah semestinya memfokuskan Free Trade Zone (FTZ) atau Zona Perdagangan Bebas, yang belum lama ini digagas Wapres Jusuf Kalla. Tidak kurang tujuh daerah baru yang akan ditunjuk untuk itu. Salah satunya adalah Propinsi Sumatra Utara. Namun, lokasinya belum ditetapkan. Namun sayang, pemerintah daerah setempat kurang meresponsnya dengan alasan tak jelas atau mungkin ketidaksiapan pemda, sehingga daerah ini akan kehilangan peluang untuk ditunjuk menjadi calon lokasi FTZ.

Adanya FTZ ini, semua ekonom sepakat bahwa FTZ adalah salah satu pilihan upaya yang efektif mendinamisasi atau bahkan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di satu kawasan. Para Perencana Wilayah mempunyai banyak pilihan untuk itu. Sebut saja, penetapan satu kawasan menjadi satu cluster bussines center (CBC), kawasan daerah pertumbuhan atau bahkan dalam kerangka kerja sama multilateral seperti IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle, Segitiga Pertumbuhan Indonesia, Malaysia, dan Thailand).

Demikian pula halnya dengan AFTA (ASEAN Free Trade Area, daerah perdagangan bebas ASEAN). Dalam persfektif lokal yang relatif sama, Batam juga dimaksudkan untuk itu. Dan kita bisa menyaksikan betapa besar kontribusi Otorita Batam sebagai daerah kawasan industri dan perdagangan bebas kepada kemajuan Provinsi Riau yang kemudian mampu mendorong terbentuknya satu Provinsi baru, Kepulauan Riau.

Bentuk perdagangan bebas dalam bentuk cluster kecil dalam satu negara, misalnya Batam (dulu ada juga Pulau Sabang) atau antara beberapa negara seperti AFTA, APEC, dan NAFTA merupakan implementasi daripada integrasi ekonomi yang bertujuan memacu atau mengakselerasi pertumbuhan ekonomi sebagaimana diutarakan Kindledger dan Linders (1978). Ada lima bentuk perdagangan yakni ; (1). Kawasan perdagangan bebas, (2). Custom union, (3). Pasar bersama, (4). Economic union, dan (5). Supranational union.

Dalam perspektif terbatas, kawasan perdagangan bebas (FTZ), hanya mengambil sebagaian kecil daripada dimensi integrasi ekonomi itu. Hal itu terutama dimaksudkan untuk memperluas pasar, manfaat timbal balik dari perdagangan dan sebagai katalis untuk mencapai pertumbuhan dan pembangunan tatanan perekonomian nasional.

Ketika terjadi inflasi masyarakat akan menempatkan kebutuhan pangan se- bagai prioritas utama dalam belanja rumah tangga. Sedang kebutuhan lainnya, termasuk pendidikan dan kesehatan, tidak masuk dalam prioritas.

Untuk itu, sebaiknya pemerintah dan Bank Indonesia (BI) betul-betul bekerja keras meminimalisasi dampak inflasi terhadap ekonomi, terutama di tingkat rumah tangga, dengan memberikan insentif dan stimulus dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dinilai cukup longgar pascakenaikan BBM.

Menanggapi, pengaruh inflasi terhadap koreksi pertumbuhan ekonomi, Adiningsih mengatakan, untuk saat ini belum terlalu signifikan semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi. Dampaknya baru akan terasa pada semester I tahun 2006.

''Kalau melihat tren pertumbuhan ekonomi turun terus, yang mana pada triwulan IV 2004 mencapai 6,7 persen, kemudian pada triwulan I 2005 turun menjadi 6,2 persen, lalu 5,2 persen pada triwulan II 2005. Apalagi dengan inflasi yang tinggi tentu pertumbuhannya semakin melambat,'' katanya.

Dia berpendapat, sektor properti akan paling terpukul akibat tingginya inflasi, yang pada periode Januari hingga Oktober 2005 mencapai 15,6 persen dan inflasi tahunan (year on year) menjadi 17,9 persen.

Terpukulnya sektor properti ini karena selain tingginya harga bahan bangunan juga akan dihantam oleh dampak lanjutan inflasi.

''Properti tidak hanya terpukul karena kenaikan harga dan turunnya daya beli masyarakat, tetapi masih ditambah dengan konsekuensi inflasi tinggi, yakni kenaikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang tentu akan diimbangi dengan kenaikan suku bunga dana dan suku bunga kredit. Apalagi, kredit-kredit properti rata-rata kredit jangka panjang,'' katanya.

Menurut Adiningsih, inflasi pada Oktober 2005 yang mencapai 8,7 persen, yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 Oktober 2005, hampir memukul semua sektor perekonomian mulai dari bisnis, investasi hingga konsumsi.

''Setelah properti bidang usaha yang cukup besar terkena dampak inflasi adalah industri nonbahan pokok, seperti industri hiburan, rekreasi, dan barang mewah,'' katanya.

Jenis industri tersebut sangat bergantung pada kemampuan daya beli masyarakat. Sehingga dengan inflasi yang tinggi mereka cenderung menunda pemenuhan kebutuhan tersebut.

Direktur PT Bank Tabungan Negara (BTN) Siswanto yang diminta pendapatnya seputar dampak inflasi terhadap kemerosotan kredit properti, mengatakan, kredit properti pada dasarnya mengikuti tren pertumbuhan ekonomi secara umum.

''Kalau pertumbuhan ekonominya baik tingkat permintaan terhadap kredit perumahan juga cukup tinggi. Demikian pula sebaliknya, semakin lambat pertumbuhan ekonomi, semakin turun permintaan kredit properti,'' kata Siswanto.

Kekhawatiran akan naiknya suku bunga setelah pengumuman inflasi masih bisa diantisipasi perbankan, khususnya dalam pemberian kredit ke sektor properti. Apalagi kalau suku bunga ke depan hanya sekitar 16-18 persen. ''Kecuali suku bunga kredit properti sudah mencapai 30 persen, akan sulit bagi perbankan untuk menyalurkannya,'' katanya.

Pemerintah mengakui laju inflasi Oktober 2005 terhadap Oktober 2004 (year on year) yang mencapai 17,89 persen di luar perkiraan. Pasalnya, pemerintah memprediksi tingkat inflasi year on year berada pada kisaran 15-16 persen.

Kendati demikian, pemerintah optimistis tingkat inflasi November dan Desember 2005 akan mengalami penurunan walaupun masih ada tekanan terhadap inflasi seperti Natal dan Tahun Baru.

Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Aburizal Bakrie dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati, pekan lalu.

''Buat pemerintah, kenaikan itu jelas lebih tinggi dari tingkat exercise. Exercise (kajian) pemerintah inflasi year on year dibayangkan hanya sampai 15-16 persen, tapi sekarang sudah sampai 17,89 persen,'' ujarnya.

Ia menjelaskan dalam dua bulan terakhir ini pemerintah akan hati-hati terutama dalam menjaga pasokan makanan dan distribusi agar inflasi dapat dijaga di bawah 1 persen.

Koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI) ke depan harus lebih harmonis terutama untuk mengendalikan ancaman inflasi di tahun 2008 mendatang. Perlunya mengendalikan inflasi agar tingkat suku bunga acuan BI Rate yang turun ke-8 persen bisa dipertahankan, sehingga investasi di sektor keuangan dan sektor riil lebih bergairah.

Demikian dikemukakan, Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib kepada SP di Jakarta, Jumat (7/12) menanggapi kebijakan bank sentral menurunkan BI Rate 25 basis poin (0,25 persen) dari 8,25 persen menjadi 8 persen.

Pengendalian APBN yang baik juga bisa menahan laju inflasi, yaitu dengan mengatur penerimaan dan pengeluaran yang berimbang, sehingga prediksi akan terjadinya inflasi dalam suatu aspek bisa diminimalisir dengan menaikkan anggaran untuk aspek tersebut.

Setiap negara yang akan membangun memerlukan modal. Modal yang digunakan dapat berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Dalam teori pembangunan ekonomi banyak ditegaskan secara implisit tentang peranan modal dalam proses pembangunan. Menurut Adam Smith, modal mempunyai peran sentral dalam proses pertumbuhan output. Akumulasi modal sangat diperlukan untuk meningkatkan daya serap perekonomian terhadap angkatan kerja. Semakin tinggi modal yang tersedia dalam perekonomian, semakin tinggi pula kemampuan perekonomian tersebut menyerap tenaga kerja.

Pasar modal merupakan alternatif menggali pembiayaan pembangunan. Pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer), dengan adanya pasar modal pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dananya tersebut dengan harapan memperoleh imbalan (return) sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.

Pasar modal Indonesia dalam perkembangannya telah menunjukkan sebagai bagian instrumen perekonomian, dimana indikasi yang dihasilkannya banyak dipicu oleh para peneliti maupun praktisi dalam melihat gambaran perekonomian Indonesia. Komitmen pemerintah Indonesia terhadap peran pasar modal tercermin dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 8 tentang pasar modal. Dimana dinyatakan bahwa pasar modal mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan nasional, sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha dan wahana investasi bagi masyarakat.

Sebagai salah satu instrumen perekonomian maka pasar modal tidak terlepas dari pengaruh yang berkembang di lingkungannya, baik yang terjadi di lingkungan ekonomi mikro yaitu peristiwa atau keadaan para emiten, seperti laporan kinerja, pembagian deviden, perubahan strategi atau perubahan strategis dalam rapat umum pemegang saham, akan menjadi informasi yang menarik bagi para investor di pasar modal.

Selain lingkungan ekonomi mikro, perubahan lingkungan yang dimotori oleh kebijakan-kebijakan makro, kebijakan moneter, kebijakan fiskal maupun regulasi pemerintah dalam sektor riil dan keuangan, akan pula mempengaruhi gejolak di pasar modal.

Menurunnya nilai tukar mata uang negara-negara Asia Tenggara terhadap Dolar, yang dimulai dengan terdepresiasinya nilai tukar Bath Thailand terhadap Dolar Amerika serikat, yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia, yang meroket dengan angka tertinggi 15.000,00 rupiah per Dolar. Konsekuensinya menggetarkan sendi sosial ekonomi bangsa yaitu dengan meningkatnya laju inflasi dan yang tertinggi terjadi pada Desember 1998. Meningkatnya laju inflasi mengakibatkan menurunnya tingkat penjualan pada perusahaan-perusahaan publik sehingga laba yang mereka terima juga menurun Sejak terjadinya krisis moneter yang kemudian diikuti oleh krisis ekonomi mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap valuta domestik menurun. Padahal kepercayaan masyarakat terhadap valuta domestik merupakan kunci maju mundurnya ekonomi suatu negara, soalnya kepercayaan kepada mata uang dengan pelaksanaan pemerintahan atau kondisi politik memiliki hubungan yang saling mempengaruhi (Makaliwe, Kontan 29 Januari 2001).

Kerugian yang dialami oleh perusahaan publik sebagai akibat memebengkaknya kewajiban luar negerinya mengakibatkan merosotnya kinerja fundamental perusahaan-perusahaan tersebut. Kemerosotan kinerja fundamental perusahaan atau emiten ditanggapi negatif oleh investor sebagaimana tercermin pada kemerosotan harga sahamnya dan indeksnya. Celakanya hampir seluruh emiten di Bursa Efek Jakarta, menderita kerugian selisih kurs karena memiliki hutang luar negeri yang mencapai 600 persen tersebut

Pada sektor moneter terjadi penurunan kredibilitas bank sentral, perbankan, dan lembaga keuangan lainnya. Dalam kondisi tersebut salah satu kebijakan pemerintah adalah dengan menaikkan tingkat suku bunga bank, yang tujuannya adalah untuk menarik uang yang beredar di masyarakat dalam waktu yang relatif cepat, akibat buruk yang ditimbulkan dari kenaikan tingkat suku bunga simpanan ini mengakibatkan meningkatnya pula tingkat suku bunga kredit oleh bank, sehingga biaya bunga yang ditangung oleh para debitor yang sebagian besar pada sektor usaha menjadi semakin besar, hal ini mengakibatkan penurunan tingkat laba bahkan merugi. Merosotnya indeks harga saham gabungan mengakibatkan menurunnya kinerja dari pasar modal tersebut. Sebab keberhasilan pasar modal dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran sekuritas, hal ini dipengaruhi oleh permintan para investor akan sekuritas di pasar modal, dan indeks bursa adalah pengukur dari tingkat pengembalian pasar saham pada bursa efek jakarta.





LAPORAN INFLASI
Berdasarkan perhitungan inflasi tahunan

Bulan Tahun

Tingkat Inflasi

November 2007

6.71 %

Oktober 2007

6.88 %

September 2007

6.95 %

Agustus 2007

6.51 %

Juli 2007

6.06 %

Juni 2007

5.77 %

Mei 2007

6.01 %

April 2007

6.29 %

Maret 2007

6.52 %

Februari 2007

6.30 %

Januari 2007

6.26 %

Desember 2006

6.60 %

November 2006

5.27 %

Oktober 2006

6.29 %

September 2006

14.55 %

Agustus 2006

14.90 %

Juli 2006

15.15 %

Juni 2006

15.53 %

Mei 2006

15.60 %

April 2006

15.40 %


CARA MENGHITUNG INFLASI


Dalam perhitungan inflasi ada tiga metode yang dipakai :
1. Indeks Harga Konsumen
2. Indeks Harga Perdagangan Besar
3. GDP deflator

BPS memakai IHK dalam perhitungan inflasinya, rumusnya adalah IHKt-(IHKt-1)/IHKt-1. Atau membendingkan indeks tahun bersangkutan dengan sebelumnya/basis.


Komoditi-komoditi yang berada dalam perhitungan IHK adalah komoditi-komoditi yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Untuk mengetahui komoditi-komoditi apa saja yang dikonsumsi oleh masyarakat kita, BPS melakukan Survei kurang lebih setiap 5 tahun (BPS mengeluarkan Survei Biaya Hidup tahun 2002, rencananya awal tahun 2008 akan keluar Survei Biaya Hidup 2007). Dalam survei ini didapatkan informasi jenis komoditi yang dikonsumsi oleh masyarakat berserta peringkat prioritas masing-masing komoditi. Akibatnya dalam perhitungan IHK digunakan rata-rata tertimbang untuk setiap kelompok dan jenis komoditi, artinya setiap kelompok dan jenis komoditi memiliki bobot yang berbeda-beda, didasarkan pada prioritas konsumsi masyarakat kita.


Untuk masyarakat Indonesia kelompok bahan makanan mempunyai bobot 24.68% sedangkan kelompok kesehatan hanya 4.31% (dan ada bobot-bobot kelompok lainnya).


Jadi logikanya, misalnya obat-obatan, emas, atau produk aksesoris mobil harganya naik tinggi, tapi pengaruh terhadap inflasi secara keseluruhan kecil sekali karena bobot masing-masing komoditi diatas kecil (atau dengan kata lain tidak masuk prioritas utama dalam konsumsi masyarakat Indonesia, walaupun ada beberapa orang menganggapnya penting). Tapi pada saat harga bahan pangan naik, efeknya ke inflasi secara keseluruhan bisa lebih besar karena bobotnya yang besar. Bobot ini terus digunakan dalam perhitungan BPS sampai mengeluarkan Survei baru lagi. GDP atau Gross domestic Product Deflator merupakan sebuah indikator mengukur indikasi inflasi yang diperoleh dari GDP nominal dikurangi GDP real. Jika Gdp deflator naik maka nilai mata uang negara tersebut akan naik.

Dalam menghitung IHK, BPS menentukan tahun 1996 sebagai tahun dasar, yang dinilai sama dengan 100. Sebagai contoh : IHK Februari 2001 sebesar 224. Hal ini berarti harga barang atau jasa yang dibeli pada bulan itu adalah 124% lebih mahal dibandingkan harga pada tahun dasar 1996. Misalnya IHK Februari 2001 naik 2 poin dibandingkan IHK Januari 2001, dimana IHK januari tersebut sebesar 222. Perubahan dari 222 ke 224 menggambarkan 2% inflasi, yang dapat berarti inflasi naik 2% di bulan Maret 2001.





BAB III

KESIMPULAN



Kesimpulan dari uraian dalam makalah ini adalah :

  1. Inflasi merupakan gejala kenaikan harga secara umum (artinya semua harga terpengaruhi) oleh karena kelangkaan persediaan barang yang ada di pasaran.

  2. Penyebab inflasi antara lain :

  • Kebijakan fiskal terlalu “gampangan” (loose). Artinya, kalau pemerintah memerlukan uang maka ditempuh jalan yang mudah, yakni cetak saja uang baru ()

  • Kenaikan harga BBM yang diikuti harga sembako yang disebabkan kelangkaan BBM atau sembako tersebut. Sebenarnya hal ini disebabkan karena distribusi BBM atau sembako tersebut yang kurang lancar.

  • Kenaikan biaya pendidikan

  • Menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, karena menurunnya kinerja pasar modal

  • Ekspektasi masyarakat akibat kenaikan harga BBM, yakni dengan tersendatnya perekonomian

  • Pengendalian APBN yang kurang baik , karena penerimaan dan pengeluaran yang tak berimbang dalam suatu sektor

  • Rencana Kenaikan gaji pegawai negeri

  1. Dampak dari Inflasi :

  1. Hal yang bisa dilakukan untuk menahan laju inflasi :

  • Pengendalian APBN yang baik

  • peningkatan tingkat suku bunga;

































DAFTAR PUSTAKA





Herlambang, Tedy dkk. Ekonomi Makro: Teori, Ekonomi dan Kebijakan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : 2001



www.suarapembaruan.com



kolom.pacific.net.id



www.hukmas.depkeu.go.id



digilib.unikom.ac.id